Minggu, 27 Januari 2019

Berita Politik Tentang Kontroversi Framing Tabloid Indonesia Barokah


Berita politik yang hangat menjelang pemilihan calon presiden adalah informasi-informasi tentang paslon yang tersebar. Jika pada pemilu 2014 ada berita obor rakyat yang menyudutkan Jokowi, sekarang ada tabloid Indonesia Barokah. Tabloid Indonesia Barokah sendiri memuat konten-konten yang menyudutkan pasangan nomor urut 2 Prabowo Sandi. Kini tabloid ini sendiri sudah dilaporkan oleh tim BPN Prabowo Sandi ke Polisi. 

Tabloid ini memang sudah ada kepentingan jika dilihat dari beberapa headline-nya. Atau jika melihat historinya, edisi pertama yang diterbitkan oleh tabloid ini mengulas tentang Reuni 212: kepentingan umat, atau kepentingan politik. Dari histori sudah cukup jelas memang majalah ini cenderung kontra dengan kubu Prabowo Sandi, mengingat tokoh-tokoh pendukung aksi 212 pun merupakan anggota dari partai pendukung Prabowo Sandi. 

Framing Indonesia Barokah Menyudutkan Paslon Nomor 2 

Jelas sekali Indonesia barokah ini mem-framing Prabowo sebagai sosok yang negatif dan dikelilingi oleh orang yang negatif. Di salah satu halaman tersebut mengulas tentang agenda agenda HTI. Jelas ini merupakan teknik redaksi untuk menggiring opini publik bahwa jika Prabowo terpilih Indonesia, maka banyak gerakan Islam radikal yang akan bertumbuh subur dan didanai pemerintah. 

Atau ada sebuah headline yang memuat judul “Prabowo Marah, Media Dibelah”, sangat jelas sekali dari bahwa redaksi ini ingin menggiring opini publik bahwa keterpilihan Prabowo sebagai presiden akan mengembalikan Indonesia kedalam rezim otoriter yang melarang kebebasan pers, dan pemerintah akan sewenang wenang terhadap jurnalis. Atmosfir otoriter inilah yang ingin disampaikan melalui headline ini. 

Atau jika ingat kejadian soal Ratna Sarumpaet, tentu itu pernah menjadi viral dimana Prabowo dan koalisinya menyelenggarakan konferensi pers dan mengecam penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet. Kasus ini juga diangkat oleh tabloid Indonesia Barokah dalam berita politiknya. Dengan berjudul “membohongi publik demi kemenangan politik, membongkar semprotan kebohongan” headline itu dilengkapi dengan karikatur Ratna dan Fadlizon 

Tabloid ini sangat tidak adil dan berat sebelah. Jika dilihat dari headline diatas tabloid tersebut ingin “menelanjangi” kesalahan kubu Prabowo yang langsung percaya dengan Ratna Sarumpaet dan dianggap ikut menyebar hoax soal Ratna yang dianiaya. Pemberitaan yang tidak berimbang ini sangat tidak baik untuk sistem demokrasi kita. Karena masyarakat mempunyai hak untuk mendapat informasi yang berimbang dan jelas. 

Sekarang saja, TV yang dimiliki oleh para politisi sudah ditegur karena pemberitaannya terlalu condong ke salah satu pihak. Hal ini dipermasalahkan oleh KPI karena stasiun TV ini menggunakan saluran frekuensi publik. Sehingga secara tidak langsung melukai hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang berimbang. Sudirman said direktur Badan Pemenangan Nasional Prabowo Sandi menanggapi fenomena ini dengan santai. 

Dia menganggap bahwa tabloid yang beredar ini menandakan kehadiran Prabowo Sandi yang sudah mulai mengancam dan menggerus suara pasangan calon nomor 1 yaitu Jokowi Ma’ruf. Benar saja, secara psikologi ketika hewan atau seseorang dalam keadaan terancam, pasti dia akan bersikap lebih reaktif dan panik. Namun ada juga anggapan bahwa tabloid ini merupakan alat bikinan tim BPN sendiri untuk membentuk opini publik bahwa ia adalah pihak dizolimi 

Kehadiran tabloid ini sebenarnya juga tidak serta merta menguntungkan kubu Jokowi Ma’ruf. Berita politik yang berseliwengan tentang tabloid ini juga bisa menggiring masyarakat bahwa ini adalah bikinan Tim Jokowi Ma’ruf untuk mendiskreditkan salah satu pasangan. Lalu mana yang benar? Polisi masih mempelajari isi guna penyelidikan lebih lanjut. 


Emoticon Emoticon