Selasa, 26 September 2017

4 Tipe Artikel yang Tidak Disukai Google


Seorang blogger yang mengabaikan kualitas artikelnya sama saja dengan bunuh diri. Dia tidak melangkah ke mana-mana. Justru kalau aktivitas blogging ala dia terus dilakukan, bisa dicap spammer oleh Google. Jangankan untuk dimonetisasi, bagi pengunjung yang tak sengaja singgah pun akan langsung buru-buru menutup halaman. Sebegitu parahnya kah? Tentu. Kualitas konten itu nomor 1. Apa saja tipe artikel yang tidak disukai Google?

1. Artikel Dinilai Kurus
Kurus di sini maksudnya miskin informasi. Artikel yang tidak bisa menjawab judulnya secara padat dan lengkap, lebih mudah untuk dilupakan. Pengunjung selalu tertarik dengan artikel yang lengkap. Jadi tidak ada yang tersisa lagi di kepala mereka. Semua sudah dibahas secara tuntas dan mendalam. Sewaktu-waktu mereka butuh dan lupa, maka kemungkinan besar akan kembali.

Inilah salah satu alasan mengapa artikel kurus tidak disukai Google. Mesin pencari Google setelah meng-update algoritmanya menjadi hummingbird, ia jadi lebih cerdas. Penilaian mereka tidak lagi fokus pada optimisasi keyword saja. Tetapi lebih pada ketertarikan pengunjung organik (yang didapat melalui pengetikan keyword di mesin pencari) dan juga seberapa lama mereka bertahan.

2. Artikel Tidak Punya Nilai Tambah
Artikel yang biasa-biasa saja akan mudah diabaikan oleh Google. Nilai tambah di sini bisa Anda manfaatkan dengan bagi-bagi ebook gratis, video tutorial, newsletter, maupun lainnya. Setidaknya saat pengunjung singgah, mereka pulang dengan membawa oleh-oleh dari Anda. Memang memerlukan usaha lebih, tapi keuntungannya nanti bisa Anda buktikan sendiri.

Hampir semua blog populer di seluruh dunia dan Indonesia memberikan nilai tambah pada setiap artikelnya. Namun pastikan kalau isinya bisa memperkaya informasi artikel yang dikaitkan. Tidak boleh berseberangan. Seseorang selalu mengapresiasi dan merasa dekat jika Anda selalu memberi nilai lebih terhadap apa yang Anda lakukan. Indahnya berbagi.

3. Artikel Tidak Orisinal
Kalau ini sudah pasti. Meskipun Google menggunakan robot perayap, tetapi ia tidak bisa dikibuli begitu saja. Anda boleh meng-copas artikel sebanyak mungkin. Namun dampak negatifnya Anda rasakan sendiri, ya. Alih-alih mau mendongkrak posisi blog di SERP, malah Anda bisa jadi dituntut pemilik artikel asli lewat jalur hukum. Yang lebih parah, akun blog Anda kena banned. Wah!

Jadi harap jangan main-main soal hak cipta, ya. Tulis sesuatu berdasarkan pengetahuan Anda sendiri. Cara ini jauh lebih aman daripada mencontek. Sesederhana apa pun itu. Jalan pintas meskipun mudah pada awalnya, tetapi sulit pada akhirnya. Jejak-jejak copas Anda akan terus gentayangan di mana-mana. Belum lagi menyangkut pelanggaran nilai moral.

4. Artikel Berkualitas Rendah
Rendahnya kualitas artikel tidak bisa dinilai versi subjektif. Ada banyak faktor kenapa sebuah artikel dicap low-quality oleh Google. Pertama, artikel terlalu banyak menanamkan keyword. Cara ini membuat artikel tidak readable sama sekali. Pengunjung akan mengira kalau artikel seperti ini tampil hanya mengejar keyword density saja. Padahal ini bisa mengakibatkan pinalti.

Kedua, link artikel di-submit ke banyak social bookmarking dalam waktu singkat. Mungkin dulu cara ini sangat efektif. Sekarang beda. Bisa-bisa artikel Anda dianggap spam oleh Google. Tahu, kan? Artikel spam tidak akan diberi tempat oleh Google di posisi yang layak. Setinggi kualitas artikel Anda, apabila memakai cara ini risiko yang didapatkan sama saja.

Keempat, struktur isi artikel tidak disampaikan secara runut. Faktor ini umumnya dipengaruhi oleh kemampuan menulis si empunya blog. Butuh waktu cukup lama untuk bisa membuat artikel jadi lebih menarik dan mudah disantap pengunjungnya. Sama seperti ketika Anda melaporkan kecelakaan. Kalau cerita Anda tidak runut kronologisnya, pihak investigator bakal susah nangkapnya.

Blog tanpa artikel, sama saja gedung tua tak berpenghuni, meskipun baru dibuat. Sementara artikel, meskipun jumlah katanya sedikit, apabila padat informasi, akan tetap disukai oleh Google. Artikel yang memiliki kemampuan mengikat perasaan pengunjung (engagement) akan lebih mudah mendapatkan posisi terbaik di Google, layaknya impian para blogger. Sebaliknya, sampai kapan pun artikel yang tidak disukai Google akan berakhir sia-sia saja.


Emoticon Emoticon